Naluri Kartini Di Jiwa Sumiharti

27 Feb 2010

Tahun 1967. Menyibak tirai kesunyian pagi, pun mentari menyinari. Harapan akan perubahan adalah doa yang tidak pernah ia tinggalkan, kini saatnya menjelajahi liuk jalan setapak untuk sebuah perubahan yang lebih baik bagi cita perempuan. Wajah Sumiharti tampak sumeringah, tegar, bahkan kuat walau sebagai buruh pendidikan di sebuah sekolah menengah pertama di desanya, Sakra, Lombok Timur.

Seringkali terngiang dalam benaknya, masih banyak yang harus diselesaikan, harus diperhitungkan bila sosok perempuan ingin maju. Mereka harus lebih cermat, lebih teliti dari laki-laki. Pun kodrat kewanitaannya harus diterima. Jelas, ketergantungan perempuan pada laki-laki saat ini masih terindera dan itu di sisi lain adalah sebuah kelemahan.

Di tiap simpul syaraf otak kaum perempuan desa Sakra masih saja terpatri kuat, surga berada di bawah telapak kaki suami. Hhh…. Ya itu memang benar, tapi ketika agama hanya dijadikan satu-satunya argumentasi, jelas salah, Sumiharti membatin.

Terlebih lagi baginya, sosok perempuan buruh di dunia pendidikan di desanya. Melihat realitas yang ada saat ini, ia bertanya, Adakah kemungkinan perempuan untuk lebih bersuara, mengejar posisi yang lebih strategis? Darahnya tak akan habis mengalir hingga perempuan Lombok berada di puncak prestasi.

Celakanya dilema posisi perempuan sebagai politisi tidak berpihak pada perempuan. Memang secara naluri, perempuan cocok sebagai guru, walau senyatanya bila berbicara peran, perempuan tidak hanya mampu berperan di bidang itu, mereka memiliki peluang yang sama besar untuk berdikari di wilayah politik. Dan sekarang ketika mampu berperan diranah politik dan memiliki kans, mengapa tidak, terangnya.

Walau matahari tepat di atas kepala, teriknya membakar tubuh ia tak luluh berpijak. Berharap muncul Kartini-kartini muda dan energik terlebih lagi bagi perempuan sasak- diranah publik dan politik; yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Tak sekali ia mengatakan, Ingin sekali. Walau tahun ini memasuki usia enampuluh, tapi insyaAllah saya akan tetap berkiprah di dunia pendidikan dan perempuan, kata Sumiharti di ruang kerjanya sebagai Kepala SMPN 1 Mataram saat itu.

Ia menyadari perempuan sasak adalah perempuan yang sering ragu-ragu. Ah saya di belakang saja, silaq ngiring.* Ini yang melandasi mengapa perempuan sering termarjinalkan, berada di posisi sub-ordinat. Ketika masih tersisa karakter sensitif, sentimentil, dan melankolis pada dirinya, keadaan pun tidak akan berubah. Mereka harus cerdas secara akademis dan emosional.

Kalau perempuan mereka ingin terangkat derajatnya, maka belajarlah, tegasnya. Meraih kecerdasan intelektual akademis itu mudah, kuncinya belajar dan belajar. Melatih kecerdasan emosional, kecerdasan spriritual, dan kecerdasan sosial kuncinya hanya banyak bergaul. Diasah dengan banyak berinteraksi dengan orang lain. Maka kekuatan dan kecerdasan itu akan muncul, jadi tidak hanya kecerdasan intelektual saja.

Di hari tuanya, ia berharap pada semua perempuan untuk membenahi diri, merubah cara berpikir, sudut pandang melihat sesuatu, tidak mengedepankan sisi emosional dan kelemahlembutannya saja.

Tak sekali ia harus menyuarakan perubahan untuk guru dan perempuan ke gedung megah DPRD NTB. Saya ke dewan atas nama PGRI Mataram, maju atas nama perempuan. Kenyataan minimnya perempuan di sana membuatnya tertegun, sedih. Ayo kita bangkit, kita maju ke depan tunjukkan diri kalau kita mampu. Siapa lagi yang menyuarakan kalau bukan kita. Kita ingin membangun daerah dan sudah waktunya, teriaknya. Suaranya menggema mengisi ruang rapat dewan siang itu.

###

Ketika kokok ayam jantan terdengar bersahutan menyapa pagi di sebuah pekarangan rumah jauh di sebuah desa, Sakra, Lombok Timur, lahirlah sesosok perempuan mungil, tepat pukul enam pagi tanggal tigabelas Juni, limapuluh sembilan tahun yang lalu.

Seorang Ayah, yang telah berdedikasi sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) sejak tahun 1942 itu pun bahagia anaknya terlahir sehat. Hmm… ini mungkin menjadi cerita yang akan terulang, gumam Mustamin Saleh melihat diri.

Berbeda dengan penduduk desa sekitarnya, sejak dini si kecil diajarkan bagaimana bekerja, bagaimana membenahi diri. Kalau untuk sekolah tidak ada kata lain: harus. Terlebih lagi bagi oragtuanya sangat cermat mendidik.

Ketika malam menyelimutinya, ketika hanya binar lampu petromak menyinari dimensi bidang ruang, ia harus belajar hingga kesunyian menemani begitu indah terdengar. Jam sembilan ia terlelap bersama pelukkan hangat sang ibu. Belajar malam ini telah usai, bisik Nurul Sakinah ibunya.

Lima tahun kemudian, Sumiharti menempuh Sekolah Rakyat (SR) di desanya. Enam tahun kemudian, setamatnya dari SR, munajat ditiap sujudnya tak pernah terhenti. Harap cemasnya pun terjawab siang itu, ia diterima sebagai siswa di sebuah SMP. Dan di tahun 1963 lulus dengan nilai yang membanggakan.

Tak berhenti di sana, mengakhiri masa pendidikan di sekolah itu, ia melanjutkan sekolah untuk sebuah cita-cita sebagai guru, di SGAN di kota Mataram. Detik-detik kelelahan di sekolah tersebut, tiga tahun berikutnya, ia pun memenuhi janji atas doanya selama ini, sebagai guru.

Mulailah ia menapaki hari-hari sebagai guru, keterbatasan pun dirasakan. Menjadi guru SMP di desa tempat kelahirannya dengan usia yang sangat muda. Usia yang tidak jauh beda dengan muridnya. Ia bercerita, Kira-kira tiga atau empat tahun dengan usia murid yang saya ajar.

Di tahun itu, hanya ada satu SMP yang ada di desa itu dan letaknya sangat jauh. Letaknya di bawah gunung, kenangnya. Di saat itu, ia melanjutkan, sekolah hanya dengan beberapa kelas semi permanen, disitulah pertama saya menjadi guru. Dari satu Agustus tahun 1967 hingga tahun 1969, ia rasakan penuh kebahagiaan dan air mata sebagai guru di desanya.

Hanya satu permasalahan yang sulit ia hindari saat itu: adat. Apalagi ketika perempuan sasak yang sudah bekerja, dilihat remaja, seperti dirinya. Setiap hari mereka, orangtua dan sahabat, bertanya, “piran merariq? Mele jari dedare toaq? Cukup uwah begawean, jere sekolah nune. Jari serjana mene-mene ndeq naraq kekakenan.”* Kalimat yang selalu terdengar di telinganya. Adat saat itu, perempuan sasak harus siap digiring, selalu menurut, ia merasakan tekanan itu. Musim panen datang tahun 1971, ia pun menikah.

Ketika masyarakat memandang pendidikan sangat dangkal, menikah adalah langkah awal untuknya berjuang. Semua titik kelemahan harus diselesaikan, pendidikan untuk perubahan harus segera dilaksanakan sepenuh hati.

Tak hanya pindah ke kabupaten Bima di tahun pertama pernikahannya, ia mengajar dari tahun 1970 hingga 1971, lalu ia pun harus mengikuti sang suami ke Sumbawa, Tahun 1975 sampai tahun 1980 saya di Alas. Bersama suami pindah dan menetap di Gunung Sari, sebuah desa di kabupaten Lombok Barat, mengajar di sana pun ia tidak tinggalkan, tepatnya tahun 1985 hingga 1990.

Profesi sebagai guru adalah sangat terhormat, baginya. Ia sangat sedih bila melihat gadis desa, Bisa dihitung kan jumlah perempuan yang maju, katanya. Tak hanya menjadi pemberi inspirasi bagi masyarakat lain, tapi juga untuk menyalurkan naluri pendidikan yang impikan Kartini dijiwanya. Tak hanya untuk tempat orang bertanya, tapi tempat orang minta tolong.

Selain fasilitas yang terbatas saat itu, yang menyemangatinya adalah naluri pengabdian diri. Terlalu banyak yang tidak maju, terlalu banyak yang tidak bisa saat itu, hal ini yang menggugah saya, di hatinya, begejolak keinginan, Anak-anak saya harus berhasil, murid saya harus berhasil, mereka harus sukses. Terlebih lagi di desa, saya ingin desa ini maju. Naluri pembebasan Sang Kartini pendidikan Kota Mataram ini menyeruak bebas dari jiwanya.

Siang beranjak malam. Jejak langkah hari ini tak terhenti sampai sini, masih panjang yang harus ditapaki. Agar perempuan tak lagi termarjinal, berada pada sub-ordinat hegemoni laki-laki, mereka harus berpendidikan dan mampu melakukan perubahan yang lebih baik. Malam hanya menjadi teman mengevaluasi diri, esok akan menjadi hari yang sangat melelahkan.

Catatan:

“Ah saya di belakang saja, silaq ngiring Bahasa Sasak yangberarti saya di belakang saja. Silahkan Anda di depan.

“Piran merariq? Mele jari dedare toaq? Cukup uwah begawean, jere sekolah nune. Jari serjana mene-mene ndeq naraq kekakenan.” Artinya kapan nikah? Mau jadi gadis tua ya? Sudahlah, cukup bekerjanya, berhenti sekolah, sayang. Jadi sarjana sekarang gak ada yang bisa dimakan.


TAGS kontribusi blogger inspirasi untuk negeri kontribusi blogger inspirasi untuk negeri


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post