simalakama malala

17 Jul 2013

para hadirin ketika itu seakan terhipnotis dengan pidato anak berusia enam belas tahun, malala yousufzai. pun tak terkecuali, Sekjen PBB Ban Ki Moon terkesima dengan yang disampaikan anak yang terkena peluru taliban itu. sedikit yang bisa sy salin isi pidatonya. untuk selengkapnya bisa dibaca di tempo dot co.

Saudara saudariku, ingatlah satu hal, Hari Malala bukanlah hari saya. Hari ini adalah hari ketika semua perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, bersuara untuk hak mereka. Hari untuk ratusan aktivis HAM dan pejuang sosial yang tak hanya bicara untuk diri mereka tapi juga berjuang untuk mewujudkan perdamaian, pendidikan dan kesetaraan.

Ada ribuan orang yang dibunuh teroris, dan jutaan orang cedera. Saya hanya salahsatu dari mereka.

walau beragam pemberitaan ‘kepahlawanannya’ perlu tetap diapresiasi, dan kita pun sepakat, bahwa pendidikan, bersekolah, belajar adalah hak utama manusia. hak itu pun diberikan Rabb Semesta Alam kepada hamba-Nya di mana pun ia berada. namun hak tersebut tentu dijalankan sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh yang menciptakan kita.

begitu pun pada yousufzai. ia berhak mendapat pendidikan seperti cara orang berpendidikan di negaranya, pakistan. seperti yang pernah sy ulas singkat. selain kaum lelaki, malala dan semua warga perempuan di atas muka bumi ini berhak belajar.

namun, belakangan sy agak heran, setelah membaca lengkap pidatonya di portal tempo dot co tersebut, kenapa arah sasarannya pada negara2 dengan ekonomi lemah, negara dunia ketiga. negara yg selalu dijadikan arah sasaran negara adidaya. dunia memang sedang berjalan pada rel superioritas dan inferioritas, dan ini akan selalu melekat dalam sejarah peradaban manusia.

layaknya ada tangan tersembunyi di bali kejadian tragedi malala. walau semuanya harus dibuktikan, namun dengan banyaknya terkuak tentang penembakan malala, dunia seakan langsung terbelah, mendukung atau tidak. mendukung tentu dengan segala manisnya yang akan didapat dari negara pendonor, atau menolak dengan segala resiko stigmatisasi barat.

apakah malala mengetahui bagaimana pendidikan di negara amerika berlangsung? sy pikir tidak. kalau ia mengetahuinya, tentu dalam pidatonya malala akan mencontohkan amerika sebagai negara besar yg buruk memberikan hak pendidikan pada rakyatnya. banyak siswa berprestasi dan miskin tidak mampu mendapatkan pendidikan di amerika. atau 57 persen pada kuartal kedua tahun 2011, anak amerika putus sekolah akhirnya harus bersaing dalam dunia pekerjaan.

tentu malala tidak tahu bahwa perempuan amerika dibayar kurang dari laki-laki, bahkan ketika mereka memiliki kualifikasi yang sama dan bekerja jam yang sama. wanita yang bekerja penuh waktu hanya memperoleh 77 persen dari apa yang orang membuat-celah 22 persen upah rata-rata tahunan. diskriminasi, bukan kurangnya pelatihan atau pendidikan, sebagian besar penyebab kesenjangan upah. bahkan dengan kualifikasi yang sama, perempuan berpenghasilan kurang dari laki-laki. pada tahun 2007, penuh waktu, tahun pekerja perempuan sepanjang berusia 25 sampai 32 dengan gelar sarjana dibayar 14 persen lebih sedikit daripada pria.

bila mengetahui, pasti malala tercengang bahwa seperempat dari seluruh wanita dewasa (usia 18 dan lebih tua) di amerika dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan adalah ibu tunggal. Lebih dari setengah dari semua orang dewasa miskin perempuan-54 persen-lajang tanpa anak.[sumber]

sebab amerika sebagai bahan perbandingan adalah negara ini masih dianggap negara paling demokratis dg jaminan sosial yg tinggi. namun di balik itu semua, masih tersimpan ketimpangan2 yg dilakukan oleh mereka, atas nama demokrasi dan ham.

tentu menjadi simpulan yang prematur mengait2kannya dengan ‘agresi’ amerika dg hadirnya malala secara tiba2, ia hadir tanpa pengetahuan yang luar biasa. pun sebagai blogger, malala yg tidak biasa diskusi dg orang yang berbeda pandangan dengannya, melalui kotak komentar di blog, yg tidak dikelolanya. kenapa saya yakin, karena komentar kedua sy yang bermuatan pesimis, dari tiga komentar sy yg lain tidak dimunculkan.

walau demikian, kita tetap dukung “one student, a teacher, a book, a pen, can change the world.” tanpa agenda asing yg menyudutkan negara lain atas nama demokrasi dan ham.


TAGS malala yusoufzai ki moon propaganda


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post